Tombak Pusaka Mayabumi Karacan Luk 7 Mataram Sultan Agung Abad 16, JST-32

 


 Termahar Bpk. AH Semarang

  • Kode Pusaka : JST-32
  • Jenis Pusaka : Tombak Luk 7
  • Dhapur : Karaca
  • Pamor : Beras Wutah
  • Tangguh : Mataram Sultan Agung Abad XVI
  • Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 481/MP.TMII/VIII/2017
  • Asal-usul Pusaka : Pemilik Sebelumnya Kolektor Jakarta
  • Keterangan Lain : Wilah besar, Tutup lawasan, Tanpa landeyan
  • Wuku :

Angka 7
Angka tujuh bagi penduduk Nusantara, terutama masyarakat Jawa, merupakan angka keramat yang memiliki makna ketentraman, kebahagiaan, kewibawaan dan kesuksesan. Angka tujuh juga terdapat dalam setiap hal yang penting seperti:
– 7 lapisan langit
– 7 lapisan bumi
– 7 anggota badan utama (2 tangan, 2 kaki, 2 lutut, 1 wajah) dan menghias 7 peribadatan (2 tangan dengan doa, 2 kaki dengan khidmat,2 lutut dengan duduk, dan 1 muka dengan sujud)
– 7 tahapan umur manusia (rodli, fathim, shobi, ghulam, syaab, kuhul, syaikh)
– 7 Lautan besar
– 7 hari dalam seminggu
– Selamatan 7 bulanan
– Peringatan hari ke-7
– Dsb

Pusaka ber-luk 7 terutama diperuntukkan bagi orang-orang yang menganggap hidup keduniawiannya sudah sempurna, sudah cukup, sudah tidak lagi mengejar keduniawian untuk kemudian lebih menekuni hidup kerohanian.
Pusaka ber-luk 7 dibuat untuk tujuan kemapanan kerohanian / kesepuhan, dimaksudkan untuk dimiliki oleh raja atau keluarga raja yang sudah matang dalam usia dan psikologis dan yang sudah mandito dan untuk para tokoh kesepuhan di masyarakat.

Karacan,
merupakam salah sati dapur tombak luk 7 yang langka. Bilah tombak itu agak tebal jika dibandingkan dengan bilah tombak dhapur lain. Permukaan bilahnya ngadal metheng,dengan ada ada yang gemuk dan landai sehingga hampir tidak terlihat karena tidak terlalu menonjol dari permukaan bilah. Kadang tombak ini juga memakai bhungkul, tetapi bungkulnya agak tipis dan kecil. Ukuran lebar tombak ini dibagian bawah agak jauh lebih lebar dan tebal dibandingkan dengan bagian tengahnya. Makin ke ujung makin tipis.
Dhapur Karacan ini mengandung makna untuk selalu mengingat asal, menjalani hidup dan kehidupan sesuai yang telah digariskan, menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak yang Di Atas, dan mempunyai sikap batin sanggup menerima ikhlas semua kehendak-Nya baik berupa rahmat maupun ujian setelah kita melakukan upaya dan ikhtiar.

Dilihat dari garapnya nampaknya tombak ini dulunya milik seseorang yang mempunyai kedudukan lumayan, apalagi jika melihat melimpahnya pamor dan methuk yang tadinya berkinatah emas. Sayangnya kinatah tersebut sudah lepas entah karena disengaja atau tidak, hanya tersisa sesikit saja bekas emas yang tertinggal di methuknya.

Tombak ini juga berukuran besar dan gagah. Dimaharkan sesuai dengan foto dan deskripsi terlampir. Wilah tombak langka, tutup tombak, dan sertifikat Musium.

Rock, JST

0838-0808-3888

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *