Keris Pusaka Mayabumi Tilam Upih Pamor Tambal Tangguh Mataram Abad 16, JST-33


Termahar oleh Bpk. MS Surabaya


  • Kode Pusaka : JST-33
  • Jenis Pusaka : Keris Lurus
  • Dhapur : Tilam Upih
  • Pamor : Ilining Warih Tambal 3
  • Tangguh : Mataram Abad XVI
  • Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 484/MP.TMII/VIII/2017
  • Asal-usul Pusaka : Kolektor Gombong Jawa Tengah
  • Keterangan Lain :  Warangka Lamen asli bawaan keris tidak mau diganti dan dibersihkan, Warangka ada cuil dibagian daunnya, Pesi Utuh Besar, Pendok Perak lamen bawaan keris tidak mau diganti, Keris Tayuh
  • Wuku : Sinta, Gumbreg, Galungan, Pahang, Maktal, Wugu

 

“Keris Tayuhan  merupakan  sebutan bagi keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan soal isoteri (tuah) daripada keindahan garap, pemilihan bahan besi dan pembuatan pamornya. Keris semacam itu biasanya mempunyai kesan wingit, angker, memancarkan perbawa dan ada kalanya menakutkan. Dhapur keris tayuhan biasanya sederhana, misalnya tilam upih, jalak dinding, kebo lajer, bukan jenis dhapur yang mewah semacam naga sasra atau singo barong.”

 

TILAM UPIH

Untuk memahami dan menikmati hasil karya dari seseorang Empu, kita tidak hanya melihat bahan besi dan kualitas penempaan, material pamor yang digunakan dan penerapaannya, serta bukan pula hanya pada pasikutan dan garap bilah semata. Lebih jauh dari itu, untuk merasakan keindahan sebilah keris, kita perlu sejenak kembali ke masa lalu. Membayangkan bagaimana kondisi budaya masyarakat setempat waktu itu, tingkatan teknologi yang telah dicapainya serta bagaimana pola pikir serta simbol-simbol (sanepa dan sengkala) dengan berbagai makna filosofi mendalam yang dianut masyarakat pada waktu itu serta berbagai aspek intangiblelain yang terkait dengan sebuah budaya masyarakat.

Banyak cerita tentang keris pusaka keluarga dengan dapur Tilam upih. Banyak juga yang meyakini bahwa pusaka (ampuh) yang berwujud keris memiliki bentuk-bentuk sederhana, seperi halnya Tilam Upih. Menurut cerita dahulu kala, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan disaat jaya.

Tilam Upih yang dalam terminologi Jawa berarti tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk alas tidur, diistilahkan sebagai kondisi sedang tirakat/prihatin, masih tidur dengan alas yang keras, belum dengan alas yang empuk. Para orang tua jaman dahulu biasanya secara turun temurun memberikan anaknya yang menikah dengan keris dhapur tilam upih, artinya didoakan agar hidup rumah tangganya baik, mulya, berkecukupan atau sebuah bentuk simbolisasi harapan tentang hidup nyaman berkecukupan.

 

PAMOR ILINING WARIH / BANYUMILI

disebut juga banyu mili (air yang mengalir) merupakan salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis yang membujur dari pangkal bilah hingga ke ujung. Garis-garis pamor itu ada yang utuh, ada yang putus-putus, dan banyak juga yang bercabang. Garis yang berkelok-kelok itu seolah menampilkan kesan seperti gambaran air sedang mengalir. Symbol untuk kerejekian dan kesuksesan bagi pemiliknya, membawa situasi baru dan keluar dari masa sulit dalam kehidupannya.

Hiduplah seperti air. Mengalir dan menjadi sumber kehidupan segala hal yang hidup :

Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.  Tuhan menciptakan air agar manusia bisa mengambil pelajaran darinya. Sifat air yang selalu mengalir ke tempat rendah analog dengan sikap rendah hati pada manusia. Ibarat pemimpin, air adalah pemimpin yang melayani. Jika ia berada di posisi teratas, maka ia akan menjadi pelayan bagi orang-orang yang membutuhkan di bawahnya.

Air selalu mengisi ruang-ruang yang kosong. Manusia yang baik adalah manusia yang berusaha mengisi kekosongan (baca : kekurangan) dari manusia lainnya. Dengan meniru sifat air, kita seharusnya bisa menjadi penolong bagi orang lain yang membutuhkan. Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada orang lain.

Air selalu mengalir ke muara.  Tak peduli seberapa jauh jaraknya, air pasti akan tiba di muara. Dengan kita meniru filosofi air yang mengalir, seharusnya kita punya visi dalam kehidupan. Hal utama yang patut diteladani dari perjalanan air menuju muara adalah sikapnya yang konsisten. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara? Mungkin ia akan singgah di sungai, tertahan karena batu kayu, tetapi akhirnya ia tetap mengalir dan tiba di muaranya. Waktu tempuh air untuk sampai ke muara sangat bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, tapi ada juga yang beberapa minggu. Patut diingat, hal terpenting bukanlah waktu tempuh yang akan dilalui, tapi seberapa besar keyakinan untuk menuju muara atau visi atau impian yang akan kita gapai.

 

PAMOR TAMBAL,

bisa dikatakan merupakan bentuk inskripsi lain, sama halnya rajah gambar dan tulisan yang digoreskan pada pusaka. Dalam hal memaknai pamor Tambal, tentu saja kondisi tataran spritual pemilik menjadi faktor dominan yang melatar-belakang kenapa dan bagaimananya? Pamor Tambal dipahami oleh banyak orang mempunyai tujuan khusus untuk menambal dan menyempurnakan kekurangan yang ada hingga memperbaiki sesuatu yang rusak. Pamor Tambal dapat juga mengandung arti akan adanya sebuah ikhtiar untuk mewujudkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Ditinjau dari sisi perencanaan, penambahan pamor tertentu (pamor tambal) pada tosan aji dibedakan menjadi dua type, yakni yang pertama penambahan pamor sudah direncanakan saat tosan aji tersebut akan dibuat (rekan asli). Dan yang kedua penambahan pamor baru dilakukan saat tosan aji tersebut sudah selesai dibuat (susulan). Bahkan jika mengacu pada kurun waktu, maka penambahan tersebut bisa dilakukan berabad kemudian dari sejak tosan aji selesai dibuat hingga diwariskan turun-temurun (beda zaman/tangguh). Bagi kalangan penganut paham eksoteri penambahan pamor tambal susulan belum tentu akan disukai, tetapi bagi para pemburu isoteri akan memiliki value lebih.

Tampak tiga tambalan berbentuk bulatan yang berjarak/spasi sama. Diyakini tiga tambalan dengan jarak yang sama sengaja dibubuhkan dengan tujuan tertentu. Kenapa berjumlah 3 (tiga)? Kami pun hanya bisa menduga-duga saja, angka 3 (tiga) merupakan simbol rahasia Sang Pencipta, dimana Rejeki, Jodoh, Hidup dan Mati sudah ada yang mengaturnya. Angka 3 (tiga) juga simbol lakon urip ada kelahiran, ada pernikahan dan ada kematian. Biasanya dicari oleh pemilik ilmu kanuragan.

 

Rock, JST

0838-0808-3888

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *