Keris Pusaka Mayabumi Jangkung Pamor Blarak Sineret Ceprit Majapahit Abad 14, JST 39

Keris Jangkung, Jangkung Majapahit, Blarak Sineret


Dimaharkan: TERMAHAR (Ibu A di Jakarta)


 

JANGKUNG
Dulu, seorang anak yang akan pergi menuntut ilmu, atau memulai pekerjaan di suatu tempat, akan dibekali oleh ayahnya dengan sebuah keris berdapur Jangkung karena keris berdapur jangkung dipercaya mempunyai tuah atau melambangkan dorongan semangat untuk mencapai cita-cita : sae kagem ingkang kagungan gegayuhan – Kajangkung Gegayuhaning Manah. (Ensiklopedi Keris)
.
Makna spiritual dalam pembuatan keris ber-luk 1 dan 3 hampir sama, yaitu sebagai lambang kedekatan manusia dengan Sang Pencipta, dan juga sebagai sarana membantu mempercepat tercapainya keinginan-keinginan sang pemilik keris. Dibandingkan keris ber-luk 1, keris ber-luk 3 lebih menonjolkan keseimbangan antara kehidupan kerohanian dan duniawi manusia, keseimbangan antara sisi spiritual dan jasmani, kemapanan duniawi dan batin dalam menjalani kehidupan di dunia. Dibandingkan keris ber-luk 1, kegaiban di dalam keris ber-luk 3 lebih dapat menyesuaikan diri dengan kondisi psikologis si manusia pemilik keris. Hawa aura energinya juga biasanya lebih halus dan lebih lembut.
.
Keris berlekuk tiga atau Jangkung memiliki makna bahwa manusia diharapkan Jinangkung Jinampangan dari Tuhan YMK. Dengan demikian, keris berlekuk tiga ini menggambarkan harapan agar keinginan manusia bisa tercapai. Orang Jawa menamakannya Jangkung, keinginannya agar senantiasa dijangkung, dipenuhi Yang Maha Kuasa. Tetapi manusia juga harus memberikan perlindungan.
.
Konon, pada awal pemerintahannya, Sultan Agung Hanyokrokusumo beberapa kali memesan keris dapur Jangkung, dengan harapan dan keinginan untuk menunjukkan tekadnya dalam memberikan pengayoman dan perlindungan kepada warga masyarakat Mataram masa itu. Juga pernah tercatat pada tahun 1984 dan 1985 Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah memesan dua bilah keris, salah satunya dapur Jangkung Mengku Negoro kepada mPu Djeno Harumbrojo. Tetapi sayangnya beliau keburu wafat sebelum keris selesai dibuat.
Jangkung panganggenya, kudu jinangkung dan-eling.
.
Dhapur Jangkung mengandung arti agar dalam hidupnya manusia untuk selalu eling memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan sumarah, sumeleh serta mituhu agar hidupnya jinangkung-jinampangan (dilindungi dan diberkati oleh Yang Maha Kuasa).
.
Sumarah berarti berserah atau pasrah dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena kita mengetahui betapa Maha Kuasa-Nya Allah sekaligus memahami betapa tidak berharga dan tidak berdayanya kita manusia di hadapan Allah. Bahwa DIA lah yang mengatur segala sesuatunya dan akan memberikan yang terbaik dalam kehidupan kita. Di saat kita menghadapi cobaan hidup maka kita bekeyakinan bahwa Allah telah punya rancangan-Nya sendiri bagi kita.
.
Sumeleh bukan berarti menyerah. Manusia sebagai hamba hanyalah bisa berusaha dan apapun hasilnya tergantung ridho-Nya. Maka dengan sumeleh manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya, termasuk ikhlas menerima yang tidak dikehendaki atau tidak kita harapkan terjadi.
.
Mituhu : artinya patuh dan menurut nasehat orang tua, karena orang tua adalah salah satu jalan yang membuat seorang manusia bisa sukses. Menjadi langkah awal menuju sebuah kesuksesan yang luar biasa.

.

BLARAK SINERET
Pamor blarak sineret pada jaman dahulu, khusus dibuat untuk para pemimpin dan bangsawan, tidak untuk dimiliki rakyat biasa. Pamor blarak sineret merupakan pamor keris yang paling dicari oleh para penggemar pusaka tosan aji dikarenakan tuah keris ini yang diyakini sangat kuat (menjunjung kewibawaan dan juga baik untuk pergaulan karena di sayang orang sekelilingnya baik pihak atasan atau bawahan) serta tingkat kesulitan pengerjaannya relatih lebih rumit dan memerlukan waktu yang panjang dibandingkan pamor lain, maka tidak mengherankan harga mas kawin keris dengan pamor blarak sinered lebih tinggi dibandingkan yang lain. Apabila kita cermati, pamor yang menempel pada guratan-guratan yang berbentuk seperti daun kelapa pada bilah telah terkikis oleh perjalanan sang waktu, menjadi saksi bisu perjalanan hidup dan kemasyuran sang pemilik dari abad ke abad.

.
MAJAPAHIT
salah satu tangguh yang mempunyai penggemar fanatiknya tersendiri. Perpaduan antara Eksoteri (bahan material dan garap kasat mata) dan Isoteri (berhubungan dengan angsar, tuah dll) dianggap sebagian kalangan menyatu dalam komposisi dan harmonisasi yang pas. Material logam dan garap tempa lipat keris Majapahit dianggap lebih baik, begitu pula dengan angsar keris Majapahit dipercaya penggemar isoteri diatas rata-rata tangguh lainnya.
Secara umum bilahnya ramping dengan tantingannya sangatlah ringan. Besinya halus, padat semu nglei (halus terdiri dari material-material kecil) pertanda matang tempa. Umumnya keris berperawakan kecil wingit dengan beri legam memancarkan sinar kebiruan jika diamati dengan detail dan seksama. Pada wilah pusaka jangkung ini dapat terlihat permukaan gandik munkal Gerang atau kurang lebih seperti asahan pisau yang sudah lama dan sering dipakai. Hal ini menandakan sedemikian detail dan luwesnya Mpu pambabar pusaka ini. Pamor Blarak Sineret pada sebilah pusaka Jangkung tangguh Majapahit dengan nuansa ceprit dan aura yang wingit? Sungguh kombinasi yang sulit ditemukan dan sulit dibuat sehingga sangat layak dimiliki untuk para pecinta Isoteri dan eksoteri.

.

Link Video Keris Jangkung : https://www.youtube.com/watch?v=i0AAcecYE9k

Jaya Sugih Tentrem,

www.mayabumi.com

0838-0808-3888

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *