Keris Pusaka Mayabumi Jalak Ngore Tangguh Bangkinang Abad 16 , JST 56

Keris Bangkinang, Keris Sumatra, Tangguh Sumatra

 


Mahar : – ( ====TERMAHAR==== )


KERIS BANGKINANG adalah keris yang pada sekitar abad ke-18 sampai akhir abad ke-19 pernah menjadi keris favorit di daerah Riau dan Semenanjung Malaysia, sampai ke Kerajaan Surathani dan Pathani di Thailand Selatan. Yang mencolok pada keris Bangkinang, adalah panjangnya yang kira-kira satu setengah sampai dua kali keris buatan Pulau Jawa. Panjang bilah keris itu antara 49 sampai 68 cm. Bilahnya tidak terlalu pipih, dan lebarnya hanya sekitar 2,2 cm di bagian tengah bilah. Panjang ganja-nya dari bagian sirah cecak sampai ke kepet hanya sekitar 4,7 sampai 5,2 cm saja.
.
Sebagian besar keris Bangkinang tidak berpamor. Walaupun demikian, wasuhan besi keris itu sangat matang, pada umumnya keris Bangkinang tergolong tahan karat. Secara geografis sebenarnya Bangkinang bukan tempat yang ideal untuk produksi keris. Namun pada kenyataannya, selama puluhan bahkan ratusan tahun, daerah ini menjadi tempat pembuatan keris yang produktif.
.
Hal ini dimungkinkan karena Bangkinang kemudian menjadi semacam daerah transit para pedagang Sumatra Barat, terutama dan Pagaruyung yang berpergian ke Pekan Baru atau ke pantai timur Sumatra. Para pedagang Sumatra inilah yang terutama memasarkan keris-keris buatan Bangkinang ke Kepulauan Riau dan Semenanjung Malaya.
.
Karena pada pertengahan abad ke-16 sampai akhir abad ke-19 keris Bangkinang cukup populer dan disukai banyak orang, bentuk keris itu kemudian ditiru dan dicontoh para pembuat keris di Pulau Bangka, Belitung, dan daerah Kampar. Tetapi, walaupun bentuknya relatif sama, keris buatan mereka tidak se-panjang keris Bangkinang, karena hanya sekitar 42 sampai 45 cm saja. Keris ini kemudian dikenal orang sebagai keris bahari, karena pemakainya kebanyakan adalah pelaut. Keris Bangkinang boleh dikatakan keris lurus. Tidak ada yang memiliki luk. Bilahnya semuanya nglimpa, karena tidak ada bilah keris Bangkinang yang memakai ada-ada. Bentuk greneng-nya unik, tidak sama dengan greneng keris Jawa. Selain bilah kerisnya, warangka Bangkinang juga memiliki bentuk yang khas. Warangka itu boleh jadi merupakan turunan langsung dari bentuk warangka keris wulan tumanggalan zaman Kesultanan Demak pada abad ke-16. Hanya sayang pada pusaka ini warangka dibuat dengan model sandang walikat. Akan tetapi meski warangka model sandang walikat, tetapi ini dibuat dari baham kayu Nagasari dan juga dibuat dari bahan utuh alias bukan 2 bagian ditempel jadi satu. Hal ini menimbulkan kesan tersendiri karena kerumitan dan kerapihan pembuatannya, hal demikian wajar karena warangka ini buatan salah seorang maestro warangka di Solo. Selebihnya nyaris pusaka ini tidak ada kekurangannya.
.
.
Termasuk kategori keris yang sulit ditemukan sekarang terutama dalam kondisi seperti ini. Sangat layak untuk dikoleksi karena kelangkaan dan keindahannya.
.
.
Jaya Sugih Tentrem

mayabumi

0838-0808-3888

.

link video: https://www.youtube.com/watch?v=ZJkleu820u4

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *