Keris Pusaka Mayabumi Brojol Tangguh Tuban Abad 19, JST-31 Keris Ngadiboyo Mpu Moyogati

Keris Pusaka Keris dimaharkan Keris Patrem


Mahar : Rp.2.500.000,-


  • Kode Pusaka : JST-31
  • Jenis Pusaka : Keris Lurus
  • Dhapur : Brojol
  • Pamor : Ngulit Semangka Wengkon
  • Tangguh : Tuban Abad 19
  • Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 480/MP.TMII/VIII/2017
  • Asal-usul Pusaka : Nganjuk
  • Keterangan Lain : Warangka Sandang walikat kayu jati, Pusaka sering dibawa naik gunung
  • Wuku : Warigalit, Kuningan, Kuruwelut, Wuyu, Wayang, Landep

 

TANGGUH NGADIBOYO, adalah suatu daerah (desa) yang terletak di kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Mungkin nama (tangguh) yang satu ini agak kurang familiar di telinga perkerisan nasional. Rentang waktunya yang masih belum terlalu lama, adanya sumber pitutur lisan para sesepuh, jejak-jejak petilasan, alat-alat besalen hingga masih bisa dirunut kepada keturunan-keturunannya menjadikan tangguh Ngadiboyo layak mendapat tangguhnya sendiri serta menarik untuk di eksplore untuk menambah wawasan pengetahuan perkerisan. Karena jika kita buka catatan atau dokumentasi antropologi sosial, seperti The History of Java yang menjadi salah satu sumber sejarah untuk mengetahui kehidupan masyarakat Jawa di masa lalu, mencakup keadaan geografis, informasi kependudukan, pertanian, kepercayaan dan upacara keagaaman, bahasa serta hal-hal lainnya seperti Empu/Pande Senjata, di daerah Jawa Timur Thomas S Raffles mencatat diantaranya;

Di Nganjuk hidup empu pribumi Musnadi di Desa Tjepaka. Bagaimanapun, dia memahami seni menempa pamor, tetapi dia sudah tidak berlatih selama tujuh tahun, sebab pekerjaan untuk keris (untuk 15- 30 hari) itu hanya dihadiahi dengan 4 6 (Simbol atau fl. untuk gulden Belanda berasal dari mata uang lama lainnya, yaitu florijn, yang disebut florin dalam bahasa Indonesia), sehingga dia masih menekuni lagi usahanya dalam bidang pekerjaan lainnya dengan memproduksi perkakas pertanian.

Di Magetan ada yang sudah meninggal yaitu Empu Kyai Guna seorang yang terkenal, dengan tempaan keris-kerisnya dengan banyak pamor garis-garis, sementara di Desa Semen tinggallah Moestapa, yang berlatih seni menempa pamor yang disebutkan. Membeli pamor (diduga dengan jenis besi yang sedikit lapisan nikelnya) di toko orang Cina dengan harga 2.50 per katie. Sepertinya seni menempa pamor di Magetan merosot, bahwa motif pamor atau hanya sedikit sekali garis-garis yang muncul (menggunakan besi yang berisi nikel sedikit dalam jumlah kecil), atau kadang-kadang ada muncul tanpa metode yang tersusun dari substansi bawah.

Di Madiun masi tinggal pande besi senjata di Desa Batoe dari distrik Tjaruban, yang dapat memperbaiki pamor, tetapi hanya berkerja jika dia menerima perintah.

Konon menurut cerita dari tokoh masyarakat di daerah tersebut, pada jaman Perang Diponegoro pernah ada seorang (pangeran) pelarian dari barat (Kartasura), kemudian bersembunyi dan menetap mendirikan padepokan di Desa Ngadiboyo, dikenal dengan nama Mpu Moyogati. Sampai saat ini jejak peralatan besalen seperti ububan (Sejenis pompa, terdiri atas dua tabung kayu yang bentuknya persis dengan pompa-pompa yang kita kenal di bengkel-bengkel, sekarang alat ini diganti menggunakan blower), supit (sejenis tang dengan ukuran yang berbeda-beda, sebagai alat memegangi besi yang dibakar atau ditempa), kowen (tempat air untuk mendinginkan alat-alat), hingga petilasan (sumur gede) masih bisa dijumpai dan disimpan oleh ahli warisnya.

Data sementara urutan silsilah Empu Ngadiboyo adalah :

Empu Ngadiboyo I (Empu Moyogati) sekitar tahun 1830-1860.
Empu Ngadiboyo II (Empu Kriyogati) sekitar tahun 1860-1930.
Empu Ngadiboyo III (Empu Morogati/al. Trunogati/Glinsong) sekitar tahun 1930-1990

sepeninggalan Empu Ngadiboyo III generasi selanjutnya ke-4 Said dan generasi ke-5 sekarang yaitu Sonodiwiryo (Lamidi) memilih tidak melanjutkan tradisi leluhurnya sebagai penempa besi, melainkan dengan berprofesi sebagai petani bawang merah dan pembuat alat-alat pertanian. Adapun ciri-ciri keris yang diduga dibabar oleh Mpu Moyogati yang dipercaya hidup se-era dengan Mpu Guno Sasmito Utomo (Mageti I) adalah sebagai berikut :

– Keris kebanyakan berbentuk lurus berdhapur Tilam atau Brojol, dengan panjang kecil hingga sedang (15-35 cm) dengan gandik amboto ngadeg dan amboto miring.
– Bentuk gonjo agak tinggi (tebal), dengan sirah cecak tidak lancip benar dan tidak buweng (menter lancip/kacok), bagian ekor gonjo buntut urang mekrok mirip nom-noman.
– Wasuhan besi agak mentah berwarna keabuan dengan pamor cenderung kelem (tidak byor), kemungkinan banyak menggunakan baja, mirip dengan besi buatan Empu Mageti I
– Bagian Pesi dibuat besar dan panjang sekitar 6-7 cm, berbentuk gilig (silinder), hampir sebesar jari kelingking dan pada ujung pesinya terdapat tetenger berupa guratan melintang lurus (diduga kuku sang Empu), dan menurut sumber lain ada yang berbentuk tapak jalak (tanda +), atau puntiran (lung wi) dan berbentuk cincin. Dengan dimensi pesi yang besar, seringkali menjadikan bagian perut gonjo terdesak seolah tampak tidak rapat dengan bilah

 

Karena letak geografis daerah Ngadiboyo berada di bagian utara Nganjuk yang berbatasan dengan Bojonegoro dan dekat dengan daerah Tuban, sehinga sangat mungkin keris ini tersebar ke berbagai daerah pesisir utara jawa tengah bagian timur hingga Tuban. Masuk akal jika orang-orang perbatasan Jateng-Jatim menyebutnya dengan bethok brojol Tuban.

Bilah Pusaka yang kecil tentu saja memudahkan untuk dibawa kemana saja dan tanpa mengundang kecurigaan. Seperti pusaka ini (Kyahi Alit) yang sudah sering dibawa berpetualang bahkan sampai puncak Gunung Gede Jawa Barat.
Dimaharkan Keris Patrem Brojol Ngadiboyo (Kyahi Alit) berikut sertifikasi sesuai dengan detail terlampir.

 

Dahsyat, JST

0838-0808-3888

 

 

Keris Pusaka Keris dimaharkan Keris Patrem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *